Sign by Danasoft - Get Your Free Sign

BEKAS YANG TAK AKAN HILANG

Friday, May 11, 2007


Pagi hari ini, aku mendengarkan seorang penyiar radio sedang membicarakan suatu topik. Sangat menarik bagiku sampai aku memilih untuk memperhatikannya dengan seksama. Menarik bagiku karena topik yang sedang dibicarakan merupakan jawaban dari pertanyaanku kemarin. Seharian kemarin aku terus saja mencoba mencari jawaban dari beberapa pertanyaan. Ada suatu kejadian kemarin yang mendasari aku harus menulis beberapa pertanyaan.

Diawali dengan sakit hati yang diakibatkan oleh ulah seorang mahasiswi. Di musim-musim UTS ini ada saja peristiwa yang disebabkan kenakalan dan kecurangan mahasiswa. Seperti peristiwa yang terjadi kemarin. Salah satu dosen pengawas ujian memergoki seorang mahasiswi yang tengah mengerjakan soal ujian. Mungkin pemandangan yang sering terlihat adalah mahasiswa saling mencontek. Sedangkan apa yang terjadi kemarin justru lebih parah dari sekedar mencontek. Dia, mahasiswi tersebut, memiliki satu eksemplar soal beserta jawabannya. Soal tersebut sama persis dengan soal yang tengah diujikan hari itu. Masalah ini dibahas ketika ujian telah selesai diselenggarakan. Dosen penanggung jawab mata ajar tersebut mengatakan saat soal-soal tersebut diperbanyak, beliau menunggui sendiri di lokasi beliau memperbanyak. Artinya seharusnya tidak ada celah sedikitpun terjadi kebocoran soal. Oknum yang akhirnya dicurigai adalah pihak yang memfotokopi. Masalah itu pun masih diusut oleh dosen penanggung jawab mata ajar.

Yang dirasakan oleh dosen pengawas ujian dan dosen penanggung jawab mata ajar tersebut adalah sakit hati. Penghinaan yang besar atas usaha yang dilakukan oleh kedua dosen tersebut. Sebenarnya, seberapa sakitkah yang dirasakan oleh kedua dosen tersebut ? Terutama dosen penanggung jawab mata ajar. Aku mengandaikan diriku berada di posisi beliau. Yang nyata kurasakan adalah sakit hati yang lumayan parah. Rasanya sangat terhina dan terkhianati oleh orang yang benar-benar kupercayai. Aku mencoba menuangkannya menjadi beberapa pertanyaan, yaitu :
- Seberapa penting kita perlu menyadari bahwa kita telah menyakiti hati orang lain ?
- Apakah akibatnya bagi kita bila kita menyakiti hati orang lain ?
- Apakah berlaku hukum kausalitas ?


Nah, hari ini aku baru dapat mencoba menjawab dan menganalisis pertanyaan yang kutulis tersebut. Penyiar radio itu menceritakan suatu peristiwa dalam kajian tentang mutiara kehidupan. Ada seorang pemimpin muda yang sangat mudah sekali marah. Dan ia ingin sekali dapat mengendalikan amarahnya. Ia mendatangi seorang bijak. Diutarakanlah apa yang menjadi maksud kedatangan sang pemimpin itu. Orang bijak tersebut mengangguk-angguk tanda mengerti. Diam sejenak, tangan beliau menggenggam sebuah paku. Baru kemudian beliau berujar supaya pemimpin muda itu dapat mengendalikan rasa amarahnya, dia disarankan untuk menancapkan paku pada sebuah papan. Sang pemimpin muda mengerti saran orang bijak tersebut.

Sesuai anjuran orang bijak tersebut, dia selalu pergi ke belakang kantornya untuk menancapkan sebuah paku setiap kali dia marah. Satu hari tersebut, ternyata dia sudah menancapkan 17 buah paku. Dia sendiri terkejut dengan hal itu. Tetapi tetap saja pemimpin muda itu mengerjakan saran orang bijak dan itu berlangsung selama beberapa bulan. Paku-paku yang dia tancapkan, tidak sama setiap harinya. Terkadang banyak juga tapi di hari lain tidak banyak paku yang dia tancapkan.

Setelah dirasa oleh pemimpin muda itu cukup, pergilah ia menemui orang bijak. Dia ceritakan semua yang telah dia lakukan selama beberapa bulan. Termasuk papan yang telah penuh dengan paku-paku yang ia tancapkan untuk mengalihkan rasa marahnya. Sang orang bijak tersenyum menyikapi cerita pemimpin muda itu. Dengan tenang kemudian beliau berujar, “Engkau sudah berhasil mengendalikan rasa amarahmu. Sekarang tugasmu adalah mencabuti paku-paku yang telah engkau tancapkan tersebut. Satu per satu setiap kali kamu merasa marah.”. Pemimpin muda itu mengerti maksud orang bijak dan kembali ke kediamannya. Pemimpin muda itu benar-benar mempraktikkan saran orang bijak tersebut.
Beberapa waktu berlalu dan tiba saatnya pemimpin muda itu kembali menemui orang bijak. Tidak lupa dia bawa juga papan yang terdapat bekas paku-paku yang telah ia cabuti. Ia tunjukkan papan tersebut pada orang bijak. Kembali orang bijak tersebut tersenyum melihat papan yang ditunjukkan oleh pemimpin muda. Beliau berujar, “Engkau sudah melihat sendiri hasil dari paku yang kautancapkan ketika rasa marahmu datang. Kau lihat lubang bekas paku tersebut. Lubang itu tetap akan berbekas dan tidak hilang. Hal itu sama seperti ketika engkau memarahi seseorang. Rasa sakit yang timbul yang dirasakan oleh orang yang kaumarahi sama seperti lubang paku tersebut. Tetap berbekas dan tidak akan hilang. Walau berapa kali pun engkau meminta maaf pada orang tersebut. Jadikanlah itu pelajaran berharga bagimu.”.

Jawaban yang kudapat dari sepenggal mutiara kehidupan tersebut adalah rasa sakit akibat dikecewakan orang lain tetap akan berbekas. Dalam atau tidak, tetaplah meninggalkan bekas. Walau permintaan maaf telah dilontarkan dan terlontar, tetap saja bekas dari rasa sakit itu tetap ada. Alangkah bijaknya bila kita mau berpikir dua kali ketika akan menyakiti orang lain. Perlu diingat, tidak selamanya kita sadar bahwa kita telah menyakiti hati orang lain. Ada kalanya juga secara tidak sengaja kita telah menyakiti hati orang lain. Dan tahukah engkau, rasanya sangatlah tidak nyaman ketika kita menyakiti dan mungkin juga disakiti oleh orang lain. Jadi, sebaiknya jangan mudah membuat orang lain sakit hati karena perilaku kita, baik yang kita sadari maupun tidak.

0 komentar:

 
Free new blogger template ABSTRACT MIND Design by Pannasmontata             Powered by    Blogger